Senin, 24 Desember 2012

Peristiwa Manzikert

Peristiwa Manzikert sebagian lain menyebutkan pertempuran Manzikert
Dalam rentetan tragedi yang terjadi kisaran tahun 463 Hijriyah, para sejarawan mengisahkan bahwa Sulthan Muslim dari Turki yang bernama Alib Arselan As-Saljuqi, adalah salah seorang Mujahid yang baru saja pulang dari sebuah peperangan menuju ibukota negerinya di Thabaristan. Adapun bala tentaranya baru saja dilelahkan oleh peperangan yang sangat panjang dan pahit. Banyak di antara mereka yang tewas dan terluka. Dan jumlah mereka tidak lebih dari 15000 prajurit. Maka Armanus sang raja Romawi Barat(1) mendengar kepulangan bala tentaranya Sulthan Alib Arselan dengan kekuatan yang sangat terkuras dan letih. Dengan serta merta dia bertolak bersama iring-iringan pasukan gabungan yang berasal dari Kurkh(2), Franka(3), Saxons(4) dan sebagian wilayah Romawi timur yang belum dikuasai oleh kaum Muslimin dengan jumlah yang sangat besar.
Jumlah pasukannya mencapai 35 ribu beatrix (panglima), dan setiap beatrix mengomandoi 200 ribu pasukan berkuda dari Romawi Barat. Sementara pasukan yang berasal dari Kurkh, Franka dan Saxons berjumlah 35 ribu prajurit perang. Dan dari wilayah Romawi timur dan yang berdomisili di Konstantinopel berjumlah 15 ribu prajurit. Dia juga membawa 1.000 orang pelubang tembok dan pasukan penggali. Sedangkan jumlah perbekalan perang yang dia bawa adalah 400 kereta yang dilengkapi dengan roda dengan besi berduri, 1.000 kereta yang membawa senjata-senjata pelontar dan manjaniq (sejenis catapult)serta berbagai macam alat perang modern (pada zaman itu). Salah satunya adalah sebuah meriam yang harus didorong oleh 1.200 orang.
Armanus si raja Romawi tertipu dengan kekuatan dari pasukannya. Sebelum dia mulai menyerang dan menaklukkan negeri-negeri kaum muslimin, terlebih dahulu dia membagi-bagi negeri tersebut. Lantas dia berujar kepada panglimanya, “Bagianmu adalah syam dan bagianmu ini dan itu!” Hingga kota Baghdad. Dia juga berkata kepada para pengikutnya bahwa dia yakin akan berhasil menguasainya. Salah satunya, dia berkata kepada orang yang dia tunjuk akan berkuasa di Baghdad, “Mintalah wasiat yang baik kepada sang Khalifah, karena dia adalah sobat kita!”
Selanjutnya Armanus berhasil mencaplok kawasan Anatolia, Kapadokia separuh wilayah Khurasan dan sebagian wilayah Iraq hingga sampailah dia di Syam. Armanus dan pasukannya merampas seluruh harta kekayaan kaum Muslimin di daerah itu.
Kabar tentang tragedy ini sampai juga ke telinga Sulthan Alib Arselan dan dia benar-benar terkejut. Dia pun menjadi bingung tatkala mendengar tentara dari daulah Bani Abbasiyah di Hejaz, Nejd dan Iraq menarik pasukannya dan tentara dari daulah Fathimiyyah di mesir dan syam kalah perang. Sang Sulthan pun mulai menimbang-nimbang perkara dahsyat ini serta melihat beberapa kemungkinan pahit tersebut, di antaranya adalah:
- Apakah dia akan melarikan diri dari serangan bala tentara Romawi yang sangat dahsyat itu? Tentunya, jika dia mengambil sikap ini, ia akan dianggap sebagai seorang pengecut!!! - Apakah dia akan menarik diri, dan membiarkan negerinya dirampas oleh pasukan Romawi, sehingga dengan semena-mena mereka berbuat kerusakan disana? - Ataukah dia akan maju ke medan perang dan mengobarkan bala tentaranya untuk terjun di arena pertempuran?
Namun, dorongan iman yang senantiasa menyertai dirinya telah membakar seluruh semangat bertempur sang Sulthan yang masih tersisa dan tidak akan pernah lenyap dari dalam dadanya. Dia benar-benar bergejolak laksana seekor singa jantan yang terbakar api keimanan. Dia pun memasuki tendanya dan mencopot baju besinya, serta mambalut tubuhnya dengan kain kafan. Selanjutnya, dia keluar dan berdiri sambil mengumumkan kepada bala tentaranya, “Pada hari ini agama Islam sedang diancam bahaya besar, dan segenap kaum muslimin pun juga sedang diancam bahaya besar. Saya begitu khawatir kalau saja kalimat Laa Ilaaha Illallah sampai terkikis di muka bumi ini.” Kemudian dia berteriak dengan lantang, “Wahai kaum muslimin, tolonglah Islam, tolonglah Islam! Saya telah membungkus tubuh ini dengan kain kafan. Barangsiapa yang menginginkan surga, hendaklah dia melakukan seperti apa yang saya lakukan. Kita harus bertarung di bawah panji Laa Ilaaha Illallah hingga kita mati syahid atau dapat meninggikan kalimat Laa Ilaaha Illallah!”
Pernahkah anda menyaksikan sebuah pasukan tentara berjumlah 15.000 orang yang dibalut kafan seluruh tubuhnya, dalam satu waktu….?. Ya, pasukan itu adalah pasukan Sulthan Alib Arselan; pasukan gagah berani yang tubuhnya terbungkus kain kafan. Di kala itu Sulthan Alib Arselan didampingi seorang faqih bernama Syaikh Abu Nashr Muhammad bin Abdul malik Al-Bukhari . Sang faqih ini menyarankan agar waktu pertempuran dilakukan pada hari jum’at setelah matahari condong (ketika setelah selesai salat jum’at), manakala para khathib sedang mendoakan pasukan mujahidin. Ketika waktu yang diasarankan sang Al-faqih tiba, kedua pasukan itu pun saling menatap.
Satu golongan berjuang demi Agama dan tanah airnya dan yang satu lagi berjuang demi kekuasaan.
Selanjutnya Sulthan Alib Arselan turun dari kudanya, dia pun tersungkur sujud kepada Allah Subhana wa Ta’ala dan menceburkan wajahnya ke tanah. Dia berdoa dan meminta pertolongan kepada Allah ‘Azza wa Jalla kemudian dia dan pasukannya pun merangsek ke dalam arena pertempuran, sambil mengucapkan doa, “Wahai Rabb-ku, aku merindukan perjumpaan dengan-Mu agar Engkau ridha kepadaku!”.
Belum ada informasi akurat dan netral tentang taktik dan strategi perang yang digunakan Sultan Alib Arselan, akan tetapi beberapa saat setelah pertempuran berkobar Armanus, sang raja romawi barat turut ditawan. Raja tersebut ditawan oleh seorang Mujahid. Sebelum Sulthan Alib Arselan keluar menemui pasukan bala tentaranya, dia berkata kepada sang mujahid tersebut, “kembalilah!”. Maka mujahid tersebut menjawab, “tidak”. Selanjutnya sang Sulthan berkata, “kembalilah, barangkali kamu berhasil menawan armanus!”.
Armanus pun berdiri di hadapan sang Sulthan Alib Arselan. Armanus pun tersungkur mencium kaki sang Sulthan sebagai bentuk penghormatan. Kemudian dia menebus dirinya dengan emas sebesar satu juta dinar setengah. Namun rupanya sang Sulthan enggan menerima tebusan tersebut karena Armanus telah membantai jutaan kaum muslimin di pulau Cyprus, Syam dan separuh wilayah Iraq. Sang Sulthan pun memilih untuk mengqishash raja tersebut.
Sementara itu sisa-sisa pasukan Sulthan Alib Arselan dan para Mujahidin mulai menyusun kekuatan untuk bersiap-siaga menghadapi serangan balasan setelah kekalahan gabungan tentara salib. Adapun Sulthan Alib Arselan dan seluruh kaum muslimin dan para Mujahidin larut dalam suasana syukur dan pujian tak terhingga kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ia Rahimahullah senantiasa berjihad hingga detik-detik terakhir dari kehidupannya, sampai wafatnya beliau dalam usia sekitar 41 tahun, tepatnya pada tahun 465H semoga Allah ‘Azza wa Jalla mensucikan ruhnya. Setelah kematian sang Sulthan, barulah pasukan kaum salibis berhasil merebut negeri-negeri kaum muslimin di wilayah syam dan sekitarnya.

(1).Yaitu kerajaan pecahan imperium Byzantine yang berada di ujung timur kota roma.
(2).Bangsa yang mendiami wilayah eropa tengah
(3).Sekarang adalah bangsa perancis.
(4).Bangsa yang mendiami wilayah eropa bagian utara.
Referensi :
1.Al-Bidaayah Wan Nihaayah, Ibn Katsir.
2.Tarikh Khulafa', As-Suyuthi.
3.Tarikh Islamy, Ibn Khaldun.

Minggu, 23 Desember 2012



MAKALAH ALAT-ALAT UKUR
ALAT UKUR BENDA PANJANG

DISUSUN
OLEH
KELOMPOK 2:
1.       Okky ariffan Rasyid      ; 1111090040
2.       Estia Wirnawati             ; 1111090038
3.       Ratnasari                      ; 1111090004
4.       Weni Firda                    ; 1111090017
5.       Suferyadi                      ; 1111090025
Dosen pembimbing:
 ZENI GUNAWAN M.P.Fis
iainlampung

FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
RADEN INTAN LAMPUNG
2012-2013



KATA PENGANTAR

BISMIL~2

             Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang memberikan rahmat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “”Alat-alat ukur benda panjang”.
Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan tugas ini, baik bantuan meterial, maupun bantuan berupa dorongan semangat sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini tepat waktu.
 Dalam penyusunan makalah ini kami merasa masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, kami meminta kritik dan saran yang bersifat membangun sehingga nantinya dalam menyusun laporan selanjutnya jauh lebih baik. Dan semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. Amin..



       Bandar Lampung,    5 Oktober 2012



                 Penyusun


BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang

Untuk mengukur panjang suatu benda, kita dapat menggunakan berbagai macam alat ukur panjang, diantaranya mistar, rolmeter, jangka sorong, dan mikrometer skrup. Masing-masing alat ukur panjang tersebut memiliki ketelitian yang berbeda. Semakin teliti suatu alat maka pengukuran tersebut akan mendekati ukuran yang sebenarnya. 
Dalam mengukur panjang suatu benda, selain memperhatikan ketelitian alat ukurnya, juga memperhatikan jenis dan macam benda yang akan diukur. Jika benda yang akan diukur memiliki bentuk yang sangat besar, maka pengukuran tidak mementingkan ketelitian yang besar. Contohnya untuk mengukur meja, mengukur suatu ruangan, mengukur suatu bahan tekstil, maka alat ukur yang digunakan adalah penggaris ataupun rol meter. Namun jika benda yang diukur menuntut ketelitian yang tinggi, terutama dalam suatu percobaan fisika maka alat ukur yang digunakanpun merupakan alat ukur dengan ketelitian yang tinggi yang memiliki skala terkecil yang sangat kecil. Contoh untuk mengukur diametr bola, diameter balok, , mengukur diameter luar tabung, diameter dalam tabung, mengukur kedalaman, bisa menggunakan mikrometer sekrup dan untuk dua kemampuan terakhir bisa secara spesifik dilakukan oleh alat ukur jangka sorong.
Jangka sorong memiliki skala terkecil, yaitu 0,1 mm yang artinya nilai antara dua gores yang berdekatan adalah 0,1 mm. Sehingga dapat dikatakan bahwa jangka sorong dapat mengukur panjang suatu benda dengan ketelitian hingga 0,1 mm. Pelaporan hasil pengukuran tersebut dinyatakan sebagai x = x ± ∆x, dengan x adalah nilai pendekatan terhadap nilai kebenaran x0 sedangkan ∆x adalah ketidakpastian mutlaknya. Dalam pengukuran tunggal, pengganti x0 adalah nilai hasil pengukuran itu sendiri, sedangkan ketidakpastian mutlaknya, ∆x = 1/2 skala terkecil instrumen. Selain memiliki skala terkecil 0,1 mm, jangka sorong memiliki bentuk yang unik yang terdiri dari rahang untuk mengukur diameter luar suatu benda (rahang tetap dan rahang geser bawah), rahang untuk mengukur diameter dalam suatu benda (rahang tetap dan rahang geser atas). lidah pengukur kedalaman, skala utama(dalam cm), skala utama(dalam inci), skala nonius (dalam mm), skala nonius (dalam inci), dan kunci peluncur.
Makalah ini akan membahas mengenai alat ukur panjang yaitu jangka sorong secara detail meliputi jenis jangka sorong, fungsi jangkasorong, prinsip kerja jangka sorong, pembacaan kalibrasi, prosedur penggunaannya, dan cara pembacaan hasil pengukuran.

1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang digunakan pada makalah alat ukur panjang jangka sorong ini adalah sebagai berikut :
1. Apa itu mistar,rollmeter, jangka sorong dan mikrometerskrup ?
2. Bagaimana bentuk mistar,rollmeter, jangka sorong dan mikrometerskrup bagian-bagiannya?
3. Bagaimana prinsip kerja mistar,rollmeter, jangka sorong dan mikrometerskrup?
4. Bagaimana kalibrasi mistar,rollmeter, jangka sorong dan mikrometerskrup?
5. Bagaimana prosedur pengukuran mistar,rollmeter, jangka sorong dan mikrometerskrup ?
6. Bagaimana cara pembacaan hasil pengukuran mistar,rollmeter, jangka sorong dan mikrometerskrup ?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan pembuatan makalah alat ukur panjang ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui bentuk mistar,rollmeter, jangka sorong dan mikrometerskrup beserta bagian-bagiannya.
2. Mengetahui prinsip kerja mistar,rollmeter, jangka sorong dan mikrometerskrup.
3. Mengetahui cara mengalibrasi jangka sorong dan cara pembacaan kalibrasi . mistar,rollmeter, jangka sorong dan mikrometerskrup.
4. Mengetahui prosedur pengukuran mistar,rollmeter, jangka sorong dan mikrometerskrup.
5. Mengetahui cara pembacaan hasil pengukuran mistar,rollmeter, jangka sorong dan mikrometerskrup.



BAB II
PEMBAHASAN

Alat Ukur Panjang
Alat-alat ukur panjang yang dipakai untuk mengukur panjang suatu benda antara lain mistar, rollmeter, jangka sorong, dan mikrometer sekrup.

A.     MISTAR
mistar pic
Mistar/penggaris berskala terkecil 1 mm mempunyai ketelitian 0,5 mm. Ketelitian pengukuran menggunakan mistar/penggaris adalah setengah nilai skala terkecilnya. Dalam setiap pengukuran dengan menggunakan mistar, usahakan kedudukan pengamat (mata) tegak lurus dengan skala yang akan diukur. Hal ini untuk menghindari kesalahan penglihatan (paralaks). Paralaks yaitu kesalahan yang terjadi saat membaca skala suatu alat ukur karena kedudukan mata pengamat tidak tepat.
Pada mistar 30 cm terdapat dua gores/strip pendek berdekatan yang merupakan skala terkecil dengan jarak 1mm atau 0,1 cm.  Ketelitian mistar tersebut adalah setengah dari skala terkecilnya.
Jadi ketelitian atau ketidakpastian mistar adalah (½ x 1 mm ) = 0,5 mm atau 0,05 cm



B.     ROLLMETER
rollmeter pic
Rollmeter merupakan alat ukur panjang yang dapat digulung, dengan panjang 25 – 50 meter. Meteran ini dipakai oleh tukang bangunan atau pengukur lebar jalan. Ketelitian pengukuran dengan rollmeter sampai 0,5 mm. Meteran ini biasanya dibuat dari plastik atau pelat besi tipis.
Rollmeter mempunyai ketelitian sama dengan mistar yaitu (½ x 1 mm ) = 0,5 mm atau 0,05 cm











C.     JANGKA SORONG
Jangka sorong terdiri atas dua rahang, yang pertama adalah rahang tetap yang tertera skala utama dimana 10 skala utama panjangnya 1 cm. Kedua rahang geser dimana skala nonius berada. 10 skala nonius panjangnya 0,9 cm sehingga beda panjang skala utama dan nonius adalah 0,1 mm atau 0,01 cm.
Jadi skala terkecil pada jangka sorong 0,1 mm atau 0,01 sm sehingga ketelitiannya adalah  ( ½ x 0,1 mm ) = 0,05 mm atau 0,005 cm.

http://1.bp.blogspot.com/__wKSIY9nq2Q/Sc7Kg73NZrI/AAAAAAAAAHw/VsizN9F76Kg/s200/messschieber.jpg

Kegunaan jangka sorong adalah:

- untuk mengukur suatu benda dari sisi luar dengan cara diapit;

- untuk mengukur sisi dalam suatu benda yang biasanya berupa lubang (pada pipa, maupun lainnya) dengan cara diulur;

- untuk mengukur kedalamanan celah/lubang pada suatu benda dengan cara "menancapkan/menusukkan" bagian pengukur. Bagian pengukur tidak terlihat pada gambar karena berada di sisi pemegang.

Adapun penggunaan jangka sorong tersebut, adalah sebagai berikut :



~ Mengukur Diameter Luar Benda

Cara mengukur diameter, lebar atau ketebalan benda:Putarlah pengunci ke kiri, buka rahang, masukkan benda ke rahang bawah jangka sorong, geser rahang agar rahang tepat pada benda, putar pengunci ke kanan.

~ Mengukur Diameter Dalam Benda

Cara mengukur diameter bagian dalam sebuah pipa atau tabung : Putarlah pengunci ke kiri, masukkan rahang atas ke dalam benda , geser agar rahang tepat pada benda, putar pengunci ke kanan.

~ Mengukur Kedalaman Benda

Cara mengukur kedalaman benda : Putarlah pengunci ke kiri, buka rahang sorong hingga ujung lancip menyentuh dasar tabung, putar pengunci ke kanan.

Cara pembacaan skala jangka sorong yaitu :
http://4.bp.blogspot.com/__wKSIY9nq2Q/Sc7KHbHuitI/AAAAAAAAAHo/aHTnyFYOmBE/s200/jangkasorong.jpg
Mula-mula perhatikan skala nonius yang berimpit dengan salah satu skala utama. Hitunglah berapa skala hingga ke angka nol. Pada gambar, skala nonius yang berimpit dengan skala utama adalah 4 skala. Artinya angka tersebut 0,4 mm.

Selanjutnya perhatikan skala utama. Pada skala utama, setelah angka nol mundur ke belakang menunjukkan angka 4.7 cm. Sehingga diameter yang diukur sama dengan 4,7 cm + 0,4 mm = 4,74 cm.





D.     MIKROMETERSEKRUP
Mikrometer sekrup adalah alat ukur panjang yang memiliki tingkat ketelitian tertinggi. Tingkat ketelitian mikrometersekrup mencapai 0,01 mm atau 0,001 cm. Dengan ketelitiannya yang sangat tinggi, mikrometersekrup dapat digunakan untuk mengukur dimensi luar dari benda yang sangat kecil maupun tipis seperti kertas, pisau silet, maupun kawat. Secara luas, mikrometersekrup digunakan sebagai alat ukur dalam teknik mesin elektro untuk mengukur ketebalan secara tepat dari blok-blok, luar dan garis tengah dari kerendahan dan batang-batang slot. Mikrometer memiliki 3 jenis umum pengelompokan yang didasarkan pada aplikasi berikut =
    
jenis mikrometer
  • Mikrometer Luar
Alat ukur yang dapat mengukur dimensi luar dengan cara membaca jarak antara dua muka ukur sejajar yang berhadapan, yaitu sebuah muka ukur tetap yang terpasang pada satu sisi rangka berbentuk U, dan sebuah muka ukur lainnya yang terletak pada ujung spindle yang dapat bergerak tegak lurus terhadap muka ukur, dan dilengkapi dengan sleeve dan thimble yang mempunyai graduasi yang sesuai dengan pergerakan spindle. Mikrometer luar digunakan untuk ukuran memasang kawat, lapisan-lapisan, blok-blok dan batang-batang.
  • Mikrometer dalam
Alat ukur yang dapat mengukur dimensi dalam dengan cara membaca jarak antara dua muka ukur sferis yang saling membelakangi, yaitu sebuah muka ukur tetap yang terpasang pada batang utama dan sebuah muka ukur lainnya yang terletak pada ujung spindle yang dapat bergerak searah dengan sumbunya, dan dilengkapi dengan sleeve dan thimble yang mempunyai graduasi yang sesuai dengan pergerakan spindle..Mikrometer sekrup dalam digunakan untuk mengukur garis tengah dari lubang suatu benda.
  • Mikrometer kedalaman
Mikrometer kedalaman digunakan untuk mengukur kerendahan dari langkah-langkah dan slot-slot.

    Skala pada mikrometer sekrup ada dua yaitu ;
1.       Skala Utama (SU), yaitu skala pada pegangan yang diam (tidak berputar) ditunjuk oleh bagian kiri pegangan putar dari mikrometer sekrup.
2.       Skala Nonius (SN), skala pada pegangan putar yang membentuk garis lurus dengan garis mendatar skala diam dikalikan 0,01 mm.
  
Bagian utama mikrometer sekrup ialah sebuah poros berulir yang terpasang pada sebuah silinder pemutar yang disebut Bidal. Poros berulir masuk mengulir pad silinder berskala 0,01 mm dan 0,5 mm. Silinder berskala ini tepat dilingkup oleh silinder pemutar ter bagi oleh garis-garis skala menjadi 50 bagian yang sama. Ulir pada batang silinder pemutar mempunyai ketepatan 0,5mm, ini artinya kalau ulir silinder diputar satu putaran, ia maju atau mundur 0,5 mm, karena silinder pemutar memiliki 50 skala disekelilingnya. Kalau silinder pemutar berputar sebesar satu skala , batang silinder maju atau mundur 0,5/50 mm = 0,01 mm atau 0,001 cm. Dengan demikian skala pada silinder berskala menunjukkan ukuran dalam milimeter dan tengahan milimeter, sedangkan skala pada silinder pemutar menunjukkan ukuran dalam persatuan milimeter.
    Mikrometersekrup memiliki batas ukur maksimal 25mm. Tanpa skala nonius, nst skala utama alat ini adalah ,5 mm karena pada jarak 25mm skala utama terbagi dalam 50 skala. Sehingga jarak dua skala terdekat =

                 = = 0,5 mm



Mikrometersekrup memiliki skala nonius putar yang terdiri atas 50 skala ( untuk satu kali putar ) yang sama harganya dengan jarak satu skala utama. Maka, nst nonius :
            Nst nonius =

                 = = 0,01 mm
0,01 merupakan nst skala nonius sekaligus merupakan ketelitian mikrometersekrup.
Benda yang ukurannya sangat tipis seperti kertas atau kawat yang ukurannya sangat kecil tidak dapat diukur menggunakan jangka sorong. Untuk mengukur dimensi luar dari benda yang sangat tipis digunakan mikrometer sekrup. Seperti halnya jangka sorong, mikrometer sekrup juga memiliki dua skala, yaitu skala utama dan skala nonius.




bagian-bagian mikrometer sekrup


Secara garis besar, mikrometersekrup terdiri atas =
1). Rahang tetap, yang berisi skala utama yang dinyatakan dalam satuan mm. Panjang skala utama umumnya mencapai 25 mm.
2). Poros berulir, yang dipasang pada silinder pemutar (bidal).
3). Rahang geser, yang dihubungkan dengan bidal, yang digunakan untuk memegang benda yang akan diukur bersama dengan rahang tetap.


Untuk menggunakan mikrometersekrup dapat dilakukan dengan langkah berikut :
a). Putar bidal (pemutar) berlawanan arah dengan arah jarum jam sehingga ruang antara kedua rahang cukup untuk ditempati benda yang akan diukur.
    b). Letakkan benda di antara kedua rahang.
c). Putar bidal (pemutar) searah jam sehingga saat poros hampir menyentuh benda, pemutaran dilakukan dengan menggunakan roda bergigi agar poros tidak menekan benda. Dengan memutar roda berigi ini, putaran akan berhenti segera setelah poros menyentuh benda. Jika sampai menyentuh benda yang diukur, pengukuran menjadi tidak teliti.
d). Putar sekrup penggeser hingga terdengar bunyi klik satu kali.
e). Baca hasil pengukuran pada skala utama dan skala nonius dengan rumus :
    H = (skala utama x 0,5 mm) + (skala nonius x 0,01 mm)
    Beberapa hal yang diperlukan sewaktu menggunakan mikrometer sekrup:
1.   Permukaan benda ukur, mulut ukur dari mikrometer sekrup harus dibersihkan dahulu adanya kotoran, terutama bekas proses pengukuran dapat menyebabkan kesalahan ukur maupun merusak permukaan mulut ukur.
2.   Sebelum dipakai kedudukan nol mikrometer sekrup harus diperiksa. Kedudukan nol disetel dengan cara merapatkan mulut ukur dengan ketelitian silindet tetap diputar dengan memakai kunci penyetel sampai garis referensi dari skala tetap bertemu dengan garis nol dari skala putar.
3.   Bukalah mulut ukur sampai sedikit melebihi dimensi objek ukur. Apabila dimensi tersebut cukup satu bar maka poros ukur dapat digerakkan dengan cepat dengan cara menyelindingkan silinder putat pada telapak tangan. Jangan sekali-kali memutar rangkanya dengan memegang silinder putar seolah-olah memegang mainan kanak-kanak.
4.   Benda ukur dipegang dengan tangan kiri dan mikrometer sekrup di telapak tangan kanan, dan ditahan oleh kelingking, jari manis, serta jari tengah. Telunjuk dan ibu jari dugunakan untuk memutar silinder pusat.

    Pada waktu mengukur, maka penekanan poros ukur benda ukur tidak boleh terlalu keras sehingga memungkinkan kesalahan ukur karena adanya deformasi (perubahan bentuk) dari benda ukur maupun alat ukurnya sendiri. Kecermatan pengukuran tergantung atas penggunaan tekanan pengukuran yang cukup dan selalu tetap. Hal ini dapat dicapai dengan cara memutar silinder putar melalui gigi gelincir atau tabung gelincir atau sewaktu poros ukur hampir mencapai permukaan benda ukur.


KESIMPULAN
Mistar atau Penggaris, Jangka Sorong,dan  Micrometer Scrup.
Mistar/penggaris berskala terkecil 1 mm mempunyai ketelitian 0,5 mm. ketelitian pengukuran menggunakan mistar adalah setengah nilai skala terkecilnya dalam setiap pengukuran dengan menggunakan mistar, kedudukan pengamat (mata) tegak lurus dengan skala yang akan diukur  untuk menghindari paralax.
Jangka sorong memiliki batas ketelitian 0,1 mm. jangka osrong memiliki dua rahang, yaitu rahang tetap dan dan rahang sorong .pada rahang tetap dilengkapi skala utama, sedangkan pada rahang sorong terdapat skala nonius atau skala vernier. Skala nonius mempunyai panjang 9 mmyang terbagi menjadi 10 skaladengan tingkat ketelitian 0,1 mm. hasil pengukuran menggunakan jangka sorong berdasrkan angka pada skala utama ditambah angka pada skala nonius yang dihitug dari 0 sampai dengan garis skala nonius yang berimpit dengan garis skala utama
Hasil pengukuran tidak secara langsung menampilkan angka ketidakpastiannua , ketika didefinisikan dengan benar, kesalahan/ketidakpastian hanya berkenaan dengan pengukuran yaitu, untuk memperkirakan suatu nilak eksak dalam pengukuran, tidak mungkin pasti, karena akan adanya penyimpangan. Akan tetapi, pengukuran dapat mendekati nilai, dan hasil tersebut dapat diperoleh dari tingkat ketepatan suatu alat, seperti jangka sorong yang dipergunakan adalah 0,05 mm.Mikrometer sekrup merupakan alat ukur ketebalan benda yang relatif tipis, misalnya kertas, seng, dan karbon. Pada mikrometer sekrup terdapat dua macam skala, yaitu skala tetap dan skala putar (nonius).
Skala tetap (skala utama): Skala tetap terbagi dalam satuan milimeter (mm). Skala ini terdapat pada laras dan terbagi menjadi dua skala, yaitu skala atas dan skala bawah.
Skala putar (skala nonius): Skala putar terdapat pada besi penutup laras yang dapat berputar dan dapat bergeser ke depan atau ke belakang. Skala ini terbagi menjadi 50 skala atau bagian ruas yang sama. Satu putaran pada skala ini menyebabkan skala utama bergeser 0,5 mm. Jadi, satu skala pada skala putar mempunyai ukuran:1/50 0,5 mm = 0,01 mm sekrup. Ukuran ini merupakan batas ketelitian mikrometer sekrup



DAFTAR PUSTAKA


Ø  Hellyday resnic.1998.Fisika jilid 1 Edisi 3. Jakarta Erlangga
Ø  Kamus visual PT Buana Ilmu Populer 2004
Ø  www.wikipedia.com//alat ukur panjang benda//

























DAFTAR ISI


HALAMAN JUDUL..................................................................................................i
KATA PENGANTAR...............................................................................................ii
DAFTAR ISI.............................................................................................................iii

BAB  I   PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang......................................................................................
1.2    Rumusan Masalah…………………………………………………….

BAB  II  PEMBAHASAN
          2.1  Pengertian Gas Ideal …………………………………………………
          2.2  Persamaan Keadaan Gas (nyata dan Ideal)…………………………..
          2.3  Energi dalam Gas Ideal………………………………………………
          2.4  Proses Adiabatik……………………………………………………..

BAB  III  PENUTUP
         3.1 Kesimpulan……………………………………………………………